Terimakasih Para Pendidik Di Rumah

Agustus 17, 2020

 

Pada bulan Agustus ini, telah dimulainya tahun ajaran baru 2020/2021. Sektor pendidikan masih dilakukan secara daring (dalam jaringan). Pembelajaran jarak jauh (PJJ) telah dilakukan dari tahun ajaran  sebelumnya yaitu dari bulan Maret 2020. Sudah lama juga ya? berarti telah 5 bulan berlalu. Bagaimana rasanya mengajar anak di rumah? Bosan atau menyenangkan? Sedih atau gembira?

Selain sektor pendidikan, beberapa diantaranya telah berjalan normal dengan menerapkan aturan protokol kesehatan. Aturan tersebut yaitu sosial distancing, menggunakan masker, dan cuci tangan. The new normal diterapkan harapannya supaya kehidupan masyarakat bisa berjalan normal sedia kala sebelum wabah virus Corona menyerang.

Sedihnya masyarakat banyak yang tidak patuh pada aturan, sehingga kasus COVID-19 terus bertambah banyak. Kasus COVID-19 diantaranya termasuk korban yang positif, meninggal & yang dinyatakan sembuh. Saya lihat masyarakat saat keluar rumah banyak yang tidak pakai masker, dan tetap berkumpul dengan banyak orang.

Tambah sedihnya lagi, kita pun dihantui oleh masalah ekonomi. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Hiks.... kita sama-sama berdoa ya. Semoga Indonesia tidak sampai resesi. Kita harus optimis, & berjuang bersama-sama ya.

 

ALHAMDULILLAH ....

Bulan Juli kemarin,  Alhamdulillah masjid dekat rumah saya mengadakan solat idul adha berjama’ah & saya ikut serta.  Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan. Shaf diatur agar tidak berdekatan, jama’ah wajib cek suhu, dan pakai masker.  Saya berkesempatan bisa berkumpul dengan beberapa saudara. Tidak semua kok. Hanya saudara yang ada di daerah Jakarta, Bekasi & Tangerang saja. Merayakannya dengan makan opor, lontong & ketupat. Alhamdulillahilladzi bini’mati tatimusshalihat. Jika biasanya masjid dekat rumah saya mengadakan pemotongan hewan qurban. Untuk tahun 2020 ini, pemotongan hewan qurban ditiadakan. Sehingga keluarga saya mempercayakan orang untuk memilih hewan qurban & pembagian juga dilakukan disana. Lokasinya jauh dari rumah

 

 

Terimakasih  wahai pembimbing belajar di rumah

Untuk sementara kita tak saling jumpa. Demi mencegah penularan Covid-19, kita bertahan dalam pertemuan dunia maya. Selama masa karantina Covid-19 berjalan. Siapa yang paling banyak berjasa dalam proses pembelajaran di rumah? Apakah guru? Orang tua? Kuota internet? PLN? Kepala sekolah?

 
Hem... Saya rasa semuanya berpengaruh. Mungkin yang sangat berjasa yaitu sinyal lancar, provider dan gadget yang mumpuni. Ah, tapi bagi saya tetap nomor satu adalah pendidik di rumah. Melahap semua urusan rumah & perkejaan. Dapat sabar mengajari anak.

Orang tua/wali murid berupa semaksimal mungkin agar anaknya tetap mendapatkan pelajaran. Meskipun sibuk dengan urusan domestik rumah tangga dan urusan pekerjaan. Menembus dunia maya mencari nilai tugas. Berlapang dada merogoh kantong lebih dalam untuk beli kuota. Semua demi pembelajaran dari rumah.


Belajar menggunakan aplikasi & internet seperti Google classroom, Google meet, aplikasi zoom. Tak lupa memfoto tugas & kegiatan pembelajaran anak. Supaya lebih aestetik tak lupa fotonya di edit. Kirim deh lewat jaringan internet.  

 

Bisa jadi bagi para orang tua mengikuti perkembangan dunia internet merupakan hal baru. Jadi harus belajar juga. Sama-sama belajar ya.  Ada juga siswa yang pinjem hp ke tetangga demi mengikuti belajar online.  Ada juga berita orang tua mencuri laptop motifnya agar anak bisa ikut belajar daring.  

 

Belajar daring ini menimbulkan polemik baru. Yang miskin kebingungan dengan belajar anaknya. Katanya memenuhi kebutuhan sehari-hari saja susah, apalagi harus memiliki gadget canggih & membeli kuota. Fiuh..... beban orang tua pun semakin bertambah.

 

 

Sesungguhnya............

Bukankah mengajar anak adalah pahala? Mari ikhlaskan hati untuk mengharap ridho Allah semata. Niscaya, hati menjadi lapang tak sempit. Pada dasarnya membimbing anak adalah kewajiban orang tua kan? 

 

Ya sabar.... sabar kan hati Anda wahai orang tua.  Dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini, tidak hanya anak yang belajar. Namun, orang tua juga mendapatkan pelajaran. Belajar sabar, ikhlash, lapang dada, belajar menggunakan teknologi terbaru, belajar menerima keadaan. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 216 yang artinya:

Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”


Bagi orang tua yang anaknya lebih dari satu. Mungkin akan sulit mengatur anaknya. Sabar...sabar ya mom. Semoga pahalamu bertambah banyak. Aamiin. Mari kita sama-sama berusaha & berdoa. Saling kerja sama bantu membantu. Semoga COVID-19 ini bisa segera berlalu. Aamiin.

Di sini saya sebagai guru ingin mengucapkan terimakasih banyak atas kerjasamanya. Guru bukanlah apa-apa tanpa ada bimbingan lebih lanjut dari orang tua/wali murid. Apalagi saat pandemi ini. Guru & pihak sekolah merasa tak bisa berbuat banyak saat jarak jauh diterapkan. Sungguh ku ucapkan, terimakasih para pendidik di rumah! *jabat tangan erat dari rumah

 


Referensi :

https://muslimah.or.id/3599-yang-tidak-engkau-sukai-bisa-jadi-lebih-baik.html

 

You Might Also Like

6 komentar

  1. Wah... senangnya ya mba, bisa kumpul sama keluarga di hari lebaran. *anak rantau ngiri 😅*

    Dengan PJJ gitu semoga para ortu juga jadi lebih take care sama kondisi anak2nya, ya mba...
    Soalnya kadang saya lihat beberapa ortu seperti menyerahkan tanggung jawab mendidik ke sekolah. Padahal, starting point pendidikan itu kan dari rumah, ya... 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak rantau bisa kumpul lewat virtual. sabar ya. hehehe.

      iya kak bener. pendidikan paling utama memang dari rumah. terutama peran ibu sangat penting sekali.

      Saya salut dengan para orang tua, udah bayar sekolah, kadang juga berperan sebagai guru 'dadakan' di rumah selama pandemi. harus pintar2 bagi waktu juga.

      salam kenal kak ^^

      Hapus
  2. Assalamu'alaikum Kak
    Berita perihal bapak yang mencuri laptop baru saja kemarin saya lihat di search IG, miris sekali karena mungkin kini yang tersier menjadi kebutuhan pokok.
    Sedih kak, bacanya. Semoga juga tidak resesi karena nilai tukar USD ke IDR juga sudah merangkak naik kembali. Semoga kita selalu diberikan kekuatan dan semoga virus ini segera terhapus dari muka bumi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wa'alaikumsalam warahmatullah.

      hai mba. sedih ya kisah bapak itu. kita yang berkecukupan harus lebih bersyukur nih. dan terus berdoa semoga virus corona segera berlalu. aamiin.

      Hapus
  3. Semoga bumi ini lekas pulih :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.

      semoga virus corona segera berlalu. aamiin.

      Hapus

Mari berteman ^^