Tetanggaku meninggal. Seorang Ibu yang sudah sakit lama dan akhirnya dipanggil Sang Pencipta.
Ku teringat ketika si Ibu masih ada. Sosok Ibu yang ceria dan suka berbagi. mengobrol, tertawa dan menyapa tetangga. Nampaknya karakter ekstrovert hangat dan terbuka.
Jika melihat ke diri sendiri.
Bagaimana denganku yang berkarakter introvert yang cenderung tertutup? Oke lah jika bertemu tetangga menyapa dan tersenyum. Tapi untuk inisiatif datang dan ikut ngumpul-ngumpul. Rasanya energi ini langsung terkuras. Kalau bisa ga ikut arisan, mending ga ikut.
Sejeda ku berpikir, "akan kah nanti jenazahku ada yang menyolati? akan kah nanti jenazahku didoakan banyak orang?"
Ibu yang sudah meninggal itu, usianya sepantaran dengan mamahku.
Ah jadi sedih. Aku takut jika kematian datang. Takut ditinggal. Takut berduka dalam dan lama.
Terus overthinking bertambah. Aku takut mati karena amalku belum banyak. Takut pencabutan nyawa. Takut di alam kubur dan di alam akhirat. Apakah nanti amalku diterima? Apakah aku masuk surga? Apakah dosa-dosaku diampuni? Apakah nanti bisa bertemu keluarga lagi disana?
Ah, overthinking lagi.
Dalam syarat islam, manusia yang sudah tak bernyawa, harus segera langsung dimandikan, dikafani, disolati lalu dikubur.
Dalam pikirku, jasad manusia tak bernyawa itu sudah tak ada artinya. Pasti nanti, barang-barang atau apa pun yang berhubungan dengan manusia tak bernyawa itu segera disingkirkan. entah pakaian, jabatan, rumah, makanan minuman kesukaan, akun sosmed, dll. Ya meskipun ada beberapa juga yang disimpan untuk jadi kenangan. Tapi mau sampai kapan disimpan?
Manusia tak bernyawa itu yang dikenang adalah akhlaknya ke sesama manusia, alam, tumbuhan, hewan. Manusia tak bernyawa itu, sepenting apa pun jabatannya di dunia, sekaya apa pun, seterkenal apa pun. Pasti akan dibaringkan dalam tanah. Jadi, pantaskah kita sombong?
Jika dalam Islam batas akhir jasad kita di dunia hanyalah selembar kain kafan dan liang lahad sepanjang dua meter. Maka demi Allah, sama sekali tidak ada alasan bagi kita untuk bersikap ujub, apalagi merendahkan orang lain.
Dari kematian tetangga ini. Aku bersyukur tinggal di Indonesia. Utamanya dikomplekku. Alhamdulillah, para tetangga sangat peduli. Gotong royong menyiapkan tenda, kursi, keranda. Bersedia menyolati, mendoakan, membantu ataupun memberi saran terkait kepengurusan jenazah. Alhamdulillah.


.png)



