hidup minim sampah
Travelling Minim Sampah Saat Haid: Pengalaman, Cara, dan Peralatan yang Membantu
Januari 09, 2026Hai, hello gaes! Travelling atau sekadar jalan-jalan itu momen yang menyenangkan, setuju nggak? Apalagi kalau tempatnya sudah lama masuk wishlist. Rasanya senang, excited, dan pengin menikmati setiap momen. Tapi jujur saja, travelling bisa jadi kurang menyenangkan kalau kondisi tubuh sedang tidak ideal. Dalam pengalamanku, travelling saat haid sering kali terasa kurang nyaman karena rasa nyeri dan harus lebih sering memperhatikan waktu ganti pembalut.
Sebagai perempuan, ini adalah bagian dari siklus yang Allah berikan. Namun haid bukan penghalang untuk tetap beraktivitas atau bepergian, asalkan ada persiapan yang tepat. Sejak menjalani gaya hidup minim sampah, aku juga mulai berusaha mengurangi penggunaan pembalut sekali pakai dan perlahan beralih ke pembalut kain atau menspad. Tidak langsung sempurna, karena mengubah kebiasaan memang butuh proses. Berjalan pelan-pelan, pilihan ini terasa lebih memungkinkan untuk dijalani.
Haid Bukan Penghalang Berbuat Baik
Haid sering kali membuat kita merasa “berhenti” dari Ibadah. Tidak bisa sholat, tidak bisa puasa. Seperti jarak dengan ibadah terasa lebih jauh. Padahal, dalam kondisi menstruasi pun, pintu kebaikan tetap terbuka lebar 🤍
Ibadah tidak selalu tentang ritual fisik. Niat baik, dzikir yang lirih, istighfar di sela aktivitas, bersedekah sesuai kemampuan, berbuat baik kepada orang tua, atau menjalani peran dengan penuh tanggung jawab. Semua itu bernilai di sisi Allah. Bahkan memilih gaya hidup yang lebih bertanggung jawab, seperti mengurangi sampah haid dengan pembalut kain atau menstrual cup, bisa diniatkan sebagai bentuk ikhtiar menjaga amanah bumi 🌍✨
BACA JUGA : Belajar Peduli Lingkungan dari film JUMBO
Alasanku beralih dari pembalut sekali pakai
Alasan aku beralih dari pembalut sekali pakai sebenarnya sederhana. Alhamdulillah, aku sudah punya akses air bersih yang memadai, mulai lebih sadar soal sampah, dan ingin lebih hemat dalam jangka panjang. Aku juga bukan tipe yang sering travelling jauh; paling sering hanya ke kota sebelah atau bepergian untuk kerja. Dari situ aku merasa, pilihan ini masih sangat memungkinkan untuk dijalani secara pelan-pelan, tanpa harus memaksakan diri.
Dari sisi ekonomi, pembalut kain memang terasa sebagai pengeluaran di awal. Namun setelah dipakai berulang kali, aku mulai merasakan pengeluaran bulanan yang lebih terkendali. Tidak harus sering membeli ulang, tidak panik kehabisan stok, dan lebih mudah merencanakan kebutuhan haid ke depan.
Dari sisi kesehatan, setiap orang tentu bisa punya pengalaman yang berbeda. Di pengalamanku pribadi, penggunaan pembalut kain membuatku lebih peka terhadap kondisi tubuh sendiri, terutama soal kenyamanan dan kebersihan saat haid. Selain itu juga terhindar dari bahaya yang terkandung di dalam pembalut sekali pakai. Lebih lengkap nya bisa dibaca di artikel ini ya -->
Tips travelling minim sampah saat haid
Pengalaman ini aku praktikkan saat perjalanan darat ke luar kota. Ya seperti pulang kampung atau menghadiri acara silaturahmi ke rumah saudara. Saat itu aku menggunakan kereta api. Alhamdulillah, fasilitas kereta sekarang sudah jauh lebih nyaman dan ramah. Di dalam kamar mandi tersedia wastafel, tisu, sabun cuci tangan, kloset duduk, hingga meja ganti bayi. Fasilitas ini sangat membantu, terutama saat perlu membersihkan atau mengganti pembalut kain di perjalanan.
Kuncinya ada pada mindset: tidak harus sempurna, yang penting siap dan sadar dengan pilihan yang diambil. Untuk mendukung perjalanan tetap minim sampah saat haid, berikut beberapa peralatan yang menurutku penting untuk dibawa:
1. Menstrual pad (pembalut kain)
Bawa semua menspad yang kamu punya agar lebih tenang. Jika masih tahap belajar dan jumlahnya terbatas, tidak masalah mengombinasikannya dengan pembalut sekali pakai. Ini bukan soal ideal atau tidak, tapi soal kenyamanan dan kesiapan diri.
2. Wet bag
Wet bag sangat berguna untuk menyimpan menspad, baik yang masih bersih maupun yang sudah dicuci. Bahannya waterproof, jadi insyaallah aman dan tidak merembes. Aku taruh link rekomendasinya ya→ Cek di sini
3. Sabun cuci kelapa
Agar menspad lebih awet, sebaiknya dicuci menggunakan sabun yang lembut seperti sabun kelapa, sabun zaitun, castile soap, lerak, atau eco enzyme. Dari pengalamanku, sabun kelapa paling praktis karena cepat membersihkan noda. Harga yang murah bisa kamu cek di sini → Buka tautan ini
4. Tas kecil
Tas kecil berguna untuk menyimpan menspad cadangan agar tetap rapi dan mudah diambil. Aku pribadi membawa lebih dari 10 menspad, jadi semuanya aku bawa saja supaya lebih aman dan tenang 😄 Tasnya bisa berupa goodie bag atau tas kecil apa pun yang kamu punya.
5. Insert tambahan (kain tambahan)
Untuk beberapa jenis menspad yang memiliki kantong di bagian dalam, insert tambahan bisa sangat membantu. Fungsinya untuk menambah daya serap dan mencegah bocor, terutama saat perjalanan cukup lama. Informasi harga dan produknya bisa kamu lihat di sini → kepoin yuk
BACA JUGA : Begini Caranya Belanja Online Minim Sampah
BACA JUGA : Hidup Zero Waste itu Hemat. Buktikan disini
Cara mencuci supaya menspad awet
Tips lainnya yang perlu kamu tau nih. Agar menspad (menstrual pad) bisa awet bahkan sampai 5 tahun. Yang perlu dicatat adalah saat berpergian di luar rumah. Baik saat travelling ataupun pekerjaan.
![]() |
| Menspad kain |
1. Segera bilas dengan air mengalir
Saat masih di luar rumah atau di perjalanan, bilas darah yang menempel pada menspad dengan air mengalir agar noda tidak menetap.
2. Gunakan sabun jika memungkinkan
Jika ada sabun, cuci saat itu juga. Jika belum memungkinkan, tidak apa-apa yang penting darah sudah tidak menempel.
3. Cuci ulang di penginapan atau rumah
Setelah sampai di penginapan, cuci kembali menspad dengan sabun. Jika sebelumnya sudah dicuci bersih, bisa langsung dijemur.
4. Jemur secara alami
Jemur di bawah sinar matahari agar cepat kering. Jika cuaca tidak mendukung, jemur di tempat teduh yang terkena angin juga cukup ☀️🍃
5. Hindari mesin cuci jika memungkinkan
Menjemur dan mencuci manual lebih baik untuk keawetan kain. Jika harus menggunakan mesin cuci, masukkan menspad ke dalam jaring mesin cuci (laundry net) agar tidak mudah rusak.
Cara merawat menspad Agar awet
Setiap merek menspad bisa memiliki anjuran perawatan yang sedikit berbeda. Ada yang menganjurkan disetrika, ada juga yang tidak. Karena itu, penting untuk menyesuaikan perawatan dengan rekomendasi masing-masing merek. Beberapa merek menspad yang pernah aku gunakan antara lain Yuspin, KindKain, Daridiri, dan NadNad. Secara umum, prinsip perawatannya mirip, meskipun ada detail kecil yang berbeda.
Untuk memudahkan, aku merangkum pengalaman perawatan menspad dari beberapa merek tersebut dalam bentuk tabel perbandingan.
Keterangan singkat:
-
Disetrika: Perlu atau tidak disetrika sesuai anjuran merek
-
Stripping Rutin: Perlu deep cleaning berkala
-
Cuci Langsung: Disarankan dicuci segera setelah dipakai
-
Tanpa Pewangi: Disarankan menghindari pewangi & pelembut
-
Mesin Cuci: Boleh dicuci mesin (disarankan pakai laundry bag)
Catatan: untuk pembelian baru, sebaiknya tetap konfirmasi ulang ke penjual karena anjuran perawatan bisa saja berubah.
![]() |
| Lima merek menspad |
Secara pribadi, aku menilai menspad masih bisa dikeringkan dengan mesin cuci (merek Yuspin), asalkan dimasukkan ke laundry bag agar kainnya tidak cepat rusak. Namun jika tidak ada, bisa menjemurnya secara alami. Selain itu, menurut pengalamanku, menspad yang langsung dibilas dan dicuci dengan air mengalir setelah dipakai cenderung lebih awet dibandingkan yang direndam semalaman.
Sebagai informasi tambahan, stripping adalah proses "pembersihan mendalam untuk menghilangkan residu sabun atau kotoran yang menumpuk. Stripping bisa dilakukan sekitar tiga bulan sekali, atau lebih cepat jika menspad terasa kaku, bau, atau daya serapnya menurun. Dalam kondisi seperti itu, stripping sangat membantu untuk mengembalikan kualitas menspad.
Kenapa pakai sabun kelapa? Bukan sabun cuci biasa?
Sebagian penjual menspad menyarankan untuk menghindari pembersih dengan pewangi berlebihan, termasuk deterjen dan pelembut pakaian. Bukan karena produk tersebut buruk, tetapi karena residu pewangi bisa menumpuk di serat kain dan dalam jangka panjang menurunkan daya serap menspad.
Karena itu, aku memilih sabun kelapa atau sabun alami yang formulanya lebih sederhana. Selain efektif membersihkan noda, sabun ini membantu menjaga serat kain tetap lembut dan awet.
Rekomendasi produk menspad
Berikut rekomendasi menspad berdasarkan pengalaman pribadiku. Urutan ini subjektif dan bisa berbeda untuk tiap orang.
1️. KindKain
Paling sering aku pakai. Bahannya lembut, tidak terlalu tebal, bagian dalam bisa dicuci, dan relatif tidak mudah bergeser.
Minus: motif terbatas, lama kering, noda susah hilang jika telat dicuci.
2️. Daridiri
Tipis, motif menarik, cepat kering, dan lebih terjangkau.
Minus: kurang cocok untuk aliran darah deras (aku pakai di awal/akhir haid).
3️. NadNad
Lembut, mudah dilipat, cepat kering, noda mudah hilang, harga lebih ramah.
Minus: bagian dalam tidak bisa dibuka, warna dalam hanya abu-abu.
4. Baby Oz
Mirip KindKain, bagian dalam bisa dibuka, dan lebih cepat kering.
Minus: kurang pas di celana dalam, mudah geser, berisiko bocor.
5️. Yuspin
Ukuran lebih panjang Sekitar 1-3 cm, kain halus, motif beragam dan menarik.
Minus: lebih tebal dan lama kering.
Catatan: Semua kembali ke kebutuhan dan kenyamanan masing-masing. Pengalaman setiap orang bisa berbeda 🤍
Penutup: Pelan Tapi Pasti
Tidak apa-apa jika masih selang-seling antara menspad dan pembalut sekali pakai. Untuk yang baru memulai, wajar jika pilihan ini terlihat merepotkan. Dibanding pembalut sekali pakai yang tinggal buang, menspad memang membutuhkan perhatian lebih.
Namun seiring waktu, aku belajar bahwa “repot” itu relatif. Yang paling penting tetap kenyamanan diri sendiri. Di awal mungkin terasa ribet, tapi setelah dijalani, banyak hal justru terasa lebih tenang dan terkendali, khsusnya saat travelling. Pada akhirnya, ini hanya soal perspektif dan kesiapan, bukan tentang siapa yang paling sempurna.
Tulisan ini murni berdasarkan pengalamanku pribadi, jadi sangat mungkin berbeda dengan pengalaman orang lain. Jika kamu punya tips atau cerita lain seputar travelling minim sampah saat haid, silakan berbagi di kolom komentar ya 😊
Terima kasih telah membaca. Jika bermanfaat share artikel ini ya.
Sampai bertemu di artikel berikutnya 😆👋














