Ngompos Dengan Compost Bag, Pot Dan Tong Komposter

Agustus 21, 2021

komposter foto doc pribadi


Ngompos adalah kegiatan membuat kompos. sedangkan, kompos itu sendiri adalah bahan organik (seperti daun, sisa kulit buah, sayur, sekam, jerami, kertas) yang telah mengalami dekomposisi oleh mikro organisme pengurai. Sehingga mengandung unsur hara mineral untuk (1) tanaman.  

Alhamdulillah, berkat mengenal gaya hidup zero waste. Aku pun tergerak membuat kompos (pupuk organik). Sejak 2019, baru mempraktikkan 3 jenis komposter. Metodenya hampir sama, namun yang membedakan hanya tempatnya saja.

Ayok deh dibahas satu per satu. Semoga bisa menggerakkan mu untuk mengompos juga ya. Aamiin. Berikut perjalanan mengomposku.

BACA JUGA : Gorengan Itu Enak? Valid No Debat?  


PERTAMA. Compost bag.

Aku berterimakasih banget sama Waste4Change. Awal pertama ngompos ya pakai compost bag dari merek ini. Sebenarnya mudah menggunakan compost bag. Namun, dipertengahan membuatku marah. Kesal. Sedih. Penyebabnya karena bolong digigit tikus. Bzzz…. Alhamdulillah udah panen 1x, lalu berhenti pakai compost bag ini.

compost bag waste4change foto doc pribadi


Mengompos dengan compost bag itu praktis.  Karena tinggal cemplung cemplung aja sisa organik. Tidak perlu dicacah atau potong kecil-kecil. Tapi, kalau mau cepat harus dipotong ya.

  • Harga relatif murah dibandingkan tong komposter. Beda harga, beda fasilitas. Hehe. 
  • Compost bag yang aku gunakan berukuran 80 liter. Susah diaduk karena terlalu dalam. So, menurutku sih nggak perlu diaduk. Insyaallah jadi. Begitulah kata mommy ike. Hehe.
  • Muncul hewan. Yang paling aku tidak suka adalah munculnya hewan keoa. Entah beneran dia, atau mirip ya. Nggak mau lihat lama-lama & dekat.
  • Setelah menonton videonya Mommy Ike. Aku pun penasaran langsung mencobanya. Langsung cemplungin semua material hijau (sisa buah, sayur, dll). kemudian atasnya material coklat (daun kering, kertas, dll). ini semua tanpa diaduk. Semoga saja jadi dengan hasil memuaskan. Aamiin.

 

KEDUA. Pot tanaman. 

wadah pot tanaman foto doc pribadi

  • Komposter (wadah membuat kompos) ini sama metodenya dengan compost bag. Yaitu metode aerobic, yang membutuhkan pembusukan dengan oksigen. Sebenarnya harus diaduk sih. Tapi aku tim malas mengaduk. Kadang diaduk kadang tidak. Alhamdulillah, untungnya pot tanaman ini pendek. Ngaduknya bisa menggunakan sekop.
  • Pakai wadah ini karena berhenti menggunakan compost bag. Compost bag di poin pertama, harus aku simpan dulu. Berlubang digigit tikus, dan banyak semut merah. 
  • Untuk awalan menggunakan kompos yang belum jadi dari compost bag. Tanah liat juga diikutsertakan. Sehingga ketika aku mengaduk, jadi lengket di sekop. Namun, seneng banget menyaksikan sisa organik yang telah rapuh. Seperti biji kurma, kulit manggis, bonggol jagung.

BACA JUGA : Setor Ke Bank Sampah Atau Ecobrick? 

 

  • Pakai wadah ini terinspirasi dari akun kertabumi recycling center. Seharusnya, badan pot dilubangi. Tapi aku malas. Haha. Atasnya ditutup tampah agar aman dari hujan & hewan. 
  • Pot tanaman ini belinya di pasar. Pot daur ulang harganya Rp 20.000

 

KETIGA. Tong komposter

Alhamdulillah. Terimakasih sekali. Lagi-lagi ini dapat dari hadiah. Mereknya Rekompos dari perusahaan pengelola sampah Rekosistem. Pakai wadah ini belum ada setahun. Namun, aku sangan antusias memakainya. Penampilannya keren, bagus. Lumyan bisa kembaran sama influencer gitu. Hehe.

rekompos foto doc pribadi


  • Selama menunggu kompos di wadah lain panen. Aku memutuskan untuk menggunakan rekompos. Alhamdulillah dapat warna biru. Warna kesukaanku.
  • Wadah ini menggunakan metode semi aerobic. Ada fitur keran untuk mempermudah panen kompos cair.
  • Aku yang baru belajar ini, masih malas mengaduk. Sehingga kompos menjadi bau. Plis jangan ditiru ya.
  • Kalau menurut petunjuk rekompos. Cairan EM4 yang sudah dicampur air+gula, dapat disemprotkan. Dapat wadah semprotnya. Bagus loh, aesthetic. Hehe. Tapi, aku mencoba langsung tuang saja. tanpa semprot. Nanti hasil komposnya gimana ya? Hehe.
  • Udah lama tidak mengaduk kompos. mungkin ada 1 bulan. Alhasil, muncul tanaman baru. Ada 8 atau 9. Lumayan banyak ya?
  • Pada rekompos ini, aku belum menemukan maggot, belatung, dan hewan serangga lainnya. Padahal sudah berjalan sekitar 3 bulan. Hal ini membuatku resah, galau, bingung. Pasalnya hewan-hewan tersebut yang berperan aktif menguraikan sisa organik. Lah ini malah tidak kelihatan. Hem …..  

 

KEEMPAT. Pakai compost bag (lagi)

BACA JUGA : Tentang Mukbang 

Wadah ini aku beli online di tokopedia. Alhamdulillah, bisa dikemas menggunakan kardus. Tanpa bubble wrap. Meskipun, ada sedikit isolasi. Tidak masalah. Harganya  Rp 42.000

komposter

  • Bulan Juli 2021, baru aja beli compost bag di Tokopedia. Easy grow namanya. Alhamdulillah bisa dikemas pakai kardus. Minim plastik. Hehe.
  • Pada compost bag ini, aku akan memperlakukannya dengan lebih baik. Tidak pakai tanah. Untuk unsur coklat pakai kardus dan daun kering. Just it. Karena di rumah banyak daun kering.  
  • Paling bawah unsur coklat, atasnya hijau, atasnya lagi coklat. Dan seterusnya berlapis-lapis sampai compost bag penuh.
  • Aku mengusahakan tidak memasukkan sisa organik yang berminyak. Guna menghindari hewan itu. Yang tidak ku sukai. Termasuk daun salam, daun jeruk, dll, yang bekas olahan masakan.

 

Sebenarnya aku ingin sekali me-review satu per satu jenis komposter di atas. Semoga di lain waktu bisa ya. Mulai dari awal sampai panen kompos. aamiin. Ingin juga bisa menjual kompos ini.

Dari kegiatan mengompos aku belajar bahwa semua yang Allah ciptakan tidak ada yang sia-sia. Termasuk hewan yang tidak disukai. Justru dia bermanfaat untuk lingkungan. Masyaallah.  Semoga seiring waktu aku tidak takut, dan terbiasa atas kehadiran hewan tersebut. Aamiin.  

Kenapa mengompos?  Untuk kebaikan diri sendiri dan lingkungan. Diniatkan sebagai ibadah, insyaallah berpahala.

BACA JUGA :  Agar Zero Waste Bernilai Ibadah 


Terimakasih telah membaca

Semoga bermanfaat ^^


*tulisan ini diikutsertakan dalam games 5 kelas belajar zero waste 2021



Nih buat jajan

You Might Also Like

5 komentar

  1. artikel yang menarik min (y)

    BalasHapus
  2. Masyaa Allah pengalaman ngomposnya dah byk 👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi ya gitu mba. masih coba-coba. belum panen banyak. kalau banyak yang berhasil jadi pengen jualan. haha

      Hapus
  3. Halo! Saya kebetulan lagi nyari cara menyelamatkan compost bag ku dari easy grow, trus nemu blog dirimu. Salam kenal ya! Sekalian mau nanya mba, saya sudah pake compost bag setahun eh tapi gagal panen terus, ga jadi tanah gitu semuanya masih basah, daaaan, banyak belatungnya. Sedih sih tapi bingung apa ya salah ya karena saya ga pake bioaktivator, cumen taroh aja semua sisa makanan dan kadang2 saya sertakan unsur coklat (daun dan ranting kering). Bisa dibantu mba di mana ya salahnya? Thank you ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo mba. hore...kita sama-sama mengompos nih. hehe. sama2 belajar juga.
      setahu saya, dalam perjalanan mengompos tidak ada "gagal", hanya belum jadi saja. apa-apa yang belum sesuai bisa dimodifikasi.
      kalau kasusnya mba, lanjutkan saja ngomposnya. kalau mba tipe yg malas mengaduk, maka pakai cara layer bahan hijau dan coklat.
      agar tidak banyak belatung tambahkan bahan coklat (daun kering, kardus, kertas, kulit jagung, tanah, kompos yg sudah jadi)
      bahan coklatnya bisa dipilih atau semuanya dimasukkan boleh.
      masukkan lebih banyak bahan coklat daripada bahan hijau.
      lebih baik pakai bioaktivator. semangat! ^^

      Hapus

About me

Foto saya
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Memiliki hobi menulis, membaca, berenang, jalan-jalan. Sedang belajar gaya hidup zero waste & minimalis. "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lain" (HR. Ahmad)

Instagram