Setor Ke Bank Sampah Atau Buat Ecobrick, Mana Yang Paling Solutif?

Juli 04, 2020

Masih ingat dibenak saya, berita tentang nasibnya ikan paus sperma yang mati terdampar di Pulau Kapota, Kepulauan Wakatobi,  suatu Pantai di Sulawesi. Warga setempat langsung menghampiri, kemudian membelah perut ikan paus tersebut. Sungguh tercenggang, warga menemukan berbagai jenis sampah dengan berat total 5,9 kg. Jenis sampah yang ditemukan yaitu gelas plastik, plastik keras botol minuman, sandal jempit, karung plastik, dan tali rafia.

Semenjak peristiwa itu, saya bertekad untuk menjalankan gaya hidup zero waste & aware terhadap isu persampahan.  Fakta lainnya lagi menurut website waste4change yang disadur dari sebuah studi 2015  yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (KLHK), orang-orang di Jakarta, Indonesia menghasilkan 175.000 ton sampah setiap hari. Dari semua sampah itu, hanya 7,5% yang didaur ulang, 5% dibakar, 8,5% tidak dikelola, 10% dikubur, dan sisanya 69% terakumulasi di TPA. Itu berarti, ada 120.750 ton sampah yang menumpuk di bumi kita setiap hari di Jakarta, Indonesia, dan hanya 13.125 ton yang diolah kembali menjadi barang yang berguna.
Fakta lain yang tidak kalah mencengangkan adalah Indonesia dinobatkan sebagai juara ke-2 dalam daftar negara-negara dengan puing plastik laut yang paling banyak (menurut penelitian yang dilakukan oleh Jenna Jambeck pada tahun 2015).

Jalan keluar untuk mengatasi isu persampahan, sangat diperlukan kolaborasi dari semua kalangan masyarakat & pemerintah. Pengelolaan sampah (waste management) yang sedang banyak dipromosikan bisa menjadi solusi. Lebih mudahnya diilustrasikan dalam segitiga terbalik hierarki pengelolaan sampah. Menurut website Zero Waste Europe mengenai hierarki pengelolaan sampah, bahwa tingkat teratasnya rethink/avoid. Menghindari sampah itu ada, berpikir kembali sebelum menggunakan plastik sekali pakai. Mencegah untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai mulai dari awal, mulai dari sumbernya.
Jika Anda terpaksa menggunakan plastik sekali pakai, maka tindakan selanjutnya di bawah avoid adalah reuse (menggunakan kembali).  Contoh dalam kehidupan sehari-hari yaitu menggunakan kantong plastik untuk pembungkus sampah, menggunakan botol kaca untuk menyimpan minyak goreng.  Inti dari reuse ini menggunakan kembali dengan fungsi yang sama ataupun yang berbeda.  Plastik sekali pakai/ sisa pakai digunakan lagi tanpa mengubah bentuk aslinya. Botol ya tetap botol. Kantong plastik ya tetap menjadi kantong plastik.

Berdasarkan kegelisahan saya terhadap waste management. Bimbang antara buat ecobrick atau setor ke bank sampah ya. Dari kegelisahan, terbitlah tulisan. Saya emang gitu orangnya, saat gelisah pun bisa menjadi inspirasi. Hehe. Pernah juga terpikir, apa kantong plastik dibuat tas aja ya? lucu deh kayaknya kalau dibuat tempat kacamata, pouch, dll. Berbagai produk daur ulang terlihat bagus, mudah dan solutif. Ternyata ketika melakukan sendiri tidak semudah itu.  Hasilnya berbeda  dengan yang di internet.  Biasanya 2-3 kali gagal, selanjutnya bisa bagus. Itu pun kalau kemalasan tidak menjangkiti. Saya telah mengikuti workshop pembuatan ecobrick bersama trainernya.  Awalnya saya kira mudah  hanya masukkan plastik saja. Ternyata ada beberapa peraturan yang harus diikuti agar mendapatkan ecobrick yang sempurna.

Apa itu ecobrik?

Dilansir dari ecobrick.org bahwa ecobrick merupakan botol plastik bekas yang penuh berisi segala jenis plastik bekas, bersih dan kering, mencapai kepadatan tertentu berfungsi sebagai balok bangunan yang dapat digunakan berulang-ulang.

Penggagas ecobrick adalah Russell Maier, warga berkebangsaan Kanada . Pada suatu hari, saat Russell  sedang liburan di Negara Filipina. Dia melihat banyak sampah yang dibuang ke sungai. Lalu dia pun berpikir untuk upcycle sisa pakai tersebut. Kemudian, dia berpikir lagi. Apa yang terjadi pada barang baru – yang  telah di upcyle tersebut – jika  masa berlakunya sudah habis. Tidak bisa digunakan lagi. Russell dan kawan-kawannya berinisiatif memasukkan plastik-plastik ke dalam botol. Setelah terinspirasi dari botol yang diisi pasir karya Andreas Froese.  Russell  dan kawan-kawannya terus menciptakan botol-botol berisi plastik yang disebut eco bricks.

Tahun 2013, dibuatlah situs web Ecobricks yang lambat laun dikenal orang-orang di seluruh dunia. Selanjutnya, dibuatlah Global Ecobrick Alliance (GEA) beserta penyusunan Buku Panduan Visi Ecobrick. Tahun 2014, sepakat menggunakan istilah ‘ecobrik’ tanpa spasi dan tanda petik. Istilah ini lah yang dipakai secara global di seluruh dunia. Tahun 2016, ecobrick mulai terkenal di Indonesia.
Banyak bermunculan trainer, pelatihan ecobrick di Indonesia. Ada komunitas Ecobrick Bogor, di Jakarta, Tegal, Bekasi, Yogyakarta, dan masih banyak lainnya. Jika ingin menjadi trainer membayar ke GEA untuk mendapatkan sertifikat dan pedoman pembuatannya. Program pelatihan dapat diikuti secara offline maupun online.

Cara membuat ecobrick

  1. Siapkan bahan & peralatannya ya. botol minum 600 ml yang ada tutupnya. Botol harus dalam keadaan bersih & kering. Supaya tidak ada bakteri yang nantinya bisa muncul dari situ.
  2. Plastik sisa pakai yang sudah bersih & dikeringkan. Sisa pakai yang bisa digunakan hanya sampah anorganik ya. Contohnya sterofoam, sedotan, kantong plastik, plastik multilayer. Jangan memasukkan kertas, sampah elektronik (baterai, kabel, dll) , sampah b3 (masker medis) dan kain.
  3. Siapkan timbangan & tongkat bambu atau kayu untuk mendorong plastik di dalam botol.
  4. Untuk dasarnya masukkan kantong plastik 1-2 cm. Kalau Anda & komunitas buat bareng, tetapkan dulu warna kantong plastiknya. Agar seragam, sehingga bisa memberi keindahan saat dibuat kursi, meja, dll
  5. Berdasarkan pengalaman saya, plastik multi layer tidak perlu dipotong kecil-kecil. Kalau yang mudah dimasukkan seperti bungkus kopi, plastik roti. Sedangkan plastik pewangi pakaian, jenisnya agak kaku ya. saya potong jadi beberapa bagian
  6. Masukkan plastik sambil dipadat-padatkan. Kunci untuk membuat ecobrick yang baik adalah ecobrik menjadi kerasa seperti batu bata. Padatnya sampai mencapai tutup botol
  7. Jangan lupa ditimbang, sebelum plastik terisi penuh. Ketentuan beratnya minimal 200gr untuk botol minum ukuran 600ml. Sedangkan untuk botol ukuran 1500 ml, berat minimal 500gr.
Selengkapnya bisa cek di sini.

Jika Anda membuat sendiri, bisa disetorkan ke bank sampah.  Namun, jarang bank sampah yang menerima ecobrick. Atau bisa donasikan ke komunitas terdekat & trainer ecobrik. Tentu dengan senang hati mereka akan menerima. Alangkah baiknya, sebelum membuat ecobrick, pikirkan dulu mau donasikan kemana. Karena botol juga harus seragam. Ingin merek apa dan berapa ukurannya.

Sedangkan setor ke bank sampah …

Pilihan lainnya untuk reuse sampah adalah menyetor ke bank sampah. Anda tentu tidak asing dengan bank sampah kan? Ini bukan tetangganya BCA ataupun Bank Mandiri. Bank sampah adalah tempat penyaluran sampah anorganik atau menampung sampah dari masyarakat. Masyarakat yang menyetorkan sampah bisa mendapatkan uang dari bank sampah. Rata-rata bank sampah sudah ada di semua pelosok Indonesia. Tinggal kita pintar mendayagunakannya saja. Saya sudah pernah setor ke bank sampah, meskipun beda RW. Hanya saja belum mendapat uang. Buat saya tidak masalah jika tidak dapat uang. Asalkan sisa pakai yang ada di rumah tidak berakhir di TPA.

Bank sampah menjadi penyalur untuk pabrik ataupun PKK yang nantinya akan didaur ulang menjadi produk baru. Kalau pabrik bisa membuat pot, ember, botol minum, biji plastik kualitas rendah, dll. Produk baru yang dihasilkan kualitasnya menurun dibandingkan  plastik yang diolah tersebut. Sedangkan PKK akan membuat produk daur ulang yang dibuat oleh warga setempat. Misalnya membuat bunga plastik, tas, dompet, payung, kotak tisu, dsb. Hasil daur ulang dijual kembali ke masyarakat. Baik jualan online maupun offline.

sumber: khazanah.republika

Setor ke bank sampah atau buat ecobrick? Mana yang lebih baik?

Setor ke bank sampah dan buat ecobrick ini beraada dalam tingkat yang sama yaitu reuse. Terlepas dari aktivitas daur ulang yang dilakukan pabrik ataupun PKK setelah disalurkan oleh bank sampah. Kita fokuskan pada kegiatan awalnya saja yaitu setor ke bank sampah. Kedua aktivitas ini sama baiknya, tapi kenapa saya jadi galau? Apakah Anda juga merasakan galau seperti saya? Beberapa persamaan yang saya temukan perihal kedua pengelolaan sampah ini.
  • Khusus untuk sampah anorganik
  • Sampah anorganik harus dalam keadaan bersih & kering
  • Tujuannya mulia bentuk peduli lingkungan
  • Tidak mengutamakan uang
  • Dalam tingkat yang sama yaitu reuse
  • Bisa dilakukan secara individu ataupun kelompok
Selain persamaan, juga terdapat beberapa perbedaan antara setor ke bank sampah dan buat ecobrik. Saya rangkum ke dalam tabel. Semoga mudah dipahami ya.

KESIMPULAN

Berdasarkan tabel di atas, bank sampah & ecobrick masing-masing mendapatkan tiga YA. Meskipun, keduanya memiliki kekurangan, dan kelebihannya sendiri.  So, Anda, saya dan kita semua bebas memilih diantara keduanya.  Anda pun juga bisa melakukan keduanya. Why not? Asalkan mau berkorban waktu, tenaga dan uang.  Akan tetapi, jika Anda telah menolak barang sekali pakai dari awal (rethink/avoid), maka kedua solusi ini tidak perlu dilakukan.

Ingat kembali tujuan awalnya untuk membuat bumi menjadi tempat yang lebih ‘baik’.  Aksi kebaikan yang Anda lakukan, hasilnya akan berdampak ke diri Anda sendiri. Semoga kedua aksi reuse tersebut, bisa memperbanyak catatan kebaikan ya. aamiin. Kalau Anda sudah melakukan aksi yang mana? Setor sampah atau buat ecobrick? Silahkan tulis jawabannya di kolom komentar.

Terimakasih telah membaca. Semoga bermanfaat.

Allahu’alam bishawab.


Referensi :
Zerowaste.id
https://www.epa.nsw.gov.au/your-environment/recycling-and-reuse/warr-strategy/the-waste-hierarchy
ecobricks.org
waste4change.com/everything-you-need-to-know-about-clean-from-waste-indonesia-2025/2/

You Might Also Like

0 komentar

Mari berteman ^^