Hidup Minimalis Bertentangan Dengan Zero Waste? Ini Buktinya!

Juli 04, 2020

“Semakin banyak barang yang kita miliki, semakin besar pula energi yang perlu kita keluarkan  -Fumio Sasaki”

Baru-baru ini muncul gaya hidup yang sedang popular di masyarakat yaitu gaya hidup minimalis dan zero waste. Bahkan sudah muncul di Netflix sebagai video dokumenter yang berjudul Minimalism. Di antara gaya hidup minimalis dan zero waste, manakah yang lebih dulu Anda kenal? Kalau saya lebih dulu mengenal zero waste. Awal tahu nya pun dari instagram Sustaination.
 

Btw, sudah tau kan definisi minimalis? Nyatanya, definisi minimalisme tidak mutlak 100%. Yang berarti setiap orang bisa berbeda dalam mengurangi barangnya. Seorang minimalis adalah orang yang tahu persis hal-hal apa saja yang bersifat pokok bagi dirinya, dan yang mengurangi jumlah kepemilikan barang.  Minimalis adalah orang yang bisa membedakan kebutuhan dan keinginan – keinginan karena ingin menampilkan citra tertentu – serta tidak takut mengurangi benda-benda yang termasuk keinginan.


Setelah saya membaca bukunya Fumio Sasaki “Goodbye Things”, saya mendapatkan beberapa hal yang bertentangan dengan zero. Kok bisa ya bertentangan? Hal ini menjadi penganggu buat saya yang sedang antusias dengan zero waste. Ada beberapa poin yang sejalan, dan ada pula poin yang bertentangan dengan gaya hidup zero waste.

 

Sebenanarnya ……

Hubungan antara gaya hidup minimalis dan zero waste sangat lah akrab. Jika Anda telah menerapkan gaya hidup minimalis, maka perlahan muncul gaya hidup zero waste. Hal ini sudah dibuktikan oleh Fumio Sasaki. Dia pun menjadi individu yang lebih peduli lingkungan. Seperti tidak membeli kendaraan pribadi. Katanya bisa menyewa dan di lain sisi dapat mengurangi polusi. Berikut ada beberapa hal yang yang tidak sejalan antara minimalis dan zero waste

  1. Membuang atau menyimpan barang?
Kalau si minimalis, dia akan membuang semua barang yang tidak dibutuhkan. Di rumahnya hanya ada barang yang benar-benar dia butuhkan. Sedangkan barang lainnya langsung disingkirkan. Seperti si Fumio sasaki, memberikan tips untuk membuang barang. Salah satunya adalah toples kue yang isinya sudah habis, botol minum plastik, sendok, dll.

Kalau si pejuang zero waste, dia akan menyimpan barang. Seperti toples bekas, botol, kertas bekas. Yang diperkirakan akan digunakan kemudian hari. Hal ini sering saya lakukan. Ya ada beberapa yang terpakai, ada juga yang sampai saat ini menumpuk di sudut rumah.

  1. Berhenti berpegang pada “kelak”

Ini salah satu tips dari Fumio Sasaki agar dapat berpisah dengan barang. Berhentilah berpikir jika suatu saat – entah kapan – barang akan digunakan. Berhenti berpikir akan suatu barang, mungkin akan berguna – entah kapan.  Entah itu barang yang berkaitan dengan hobi, garansi elektronik, toples kue, tong kertas, dll.

Saya tentu tidak bisa mematuhi aturan ini. Saya akan tetap menyimpan barang, dan mungkin saya harus berdoa perihal semoga barang yang saya simpan bisa digunakan suatu saat nanti – entah kapan. Dibandingkan membeli baru, begitu pikir saya. dan tujuan lainnya itu untuk membuat suatu kreasi daur ulang dari barang yang tidak terpakai. Misalnya kantong plastik bisa dijadikan dompet, baju bekas yang robek akan saya buat kantong belanja. Tidak tau kapan. Hiks…..

  1. Tidak perlu mencoba cara-cara kreatif saat hendak membuang barang

Saat kegiatan membuang barang dilakukan, ada sebagian diri bilang “wah ada toples kue, kayaknya bisa nih buat wadah obat. Wah ada celana jeans bekas, bisa nih jadi alas piring”. Hal tersebut muncul karena ada pemikiran bahwa belum bisa membuang barang. Ini juga menyangkut tentang ‘kelak’. Setelah barang-barang yang tak terpakai disimpan, lalu kapan akan dikreasikan? Kapan kreativitas ini akan dieksekusi?

Ini mungkin ada benarnya juga ya. saya pun sudah membeli kertas roti untuk membuat dompet dari kantong plastik. Belum tau kapan mau dibuat, baru rencana. Kalau dibuang sayang buminya, kalau disimpan saja entah kapan rencana daur ulang ini terlaksana. Entah kapan….


Kesimpulannya

Ini hanya artikel sharing my opinion aja sih. Apakah minimalis bisa sejalan dengan zero waste? Ada kalanya sejalan, dan bisa juga berlawanan. Tergantung bagaimana cara penerapannya. Masing-masing individu punya prinsip dan pendapatnya sendiri. Ada yang mau mengumpulkan kemasan (botol,plastik,kaca,dll) untuk dipakai lagi. Atau bahkan ada juga yang tidak punya itu semua karena mencegah dari awal sebelum sampahnya ada. Kan ada juga yang suka DIY (do it yourself).

 
Jika saya sendiri, diantara keduanya. Ingin minimalis (baru tekad) contohnya dengan mengurangi kepemilikan.  Ya kalau ada pakaian/ barang apapun yang tidak saya pakai, akan saya berikan ke orang lain.  Saya setuju dengan Fumio Sasaki perihal ketika ingin membeli/ membuang barang. Prinsip itu adalah “jika jawabannya bukan sangat butuh, katakan tidak”. Ini bisa melatih kepekaan kita terhadap kebutuhan/ keinginan, dan juga belajar memutuskan suatu hal. Belajar menjadi individu yang tegas. Kalau iya , bilang iya. Kalau tidak, bilang tidak. Istilahnya adalah asertif.


Hal yang paling menarik dari konsep gaya hidup minimalis ini adalah sejalan dengan agama islam yang sudah ada lebih dulu. Yaitu qona’ah. Tidak jauh berbeda konsepnya. Pengertian qona’ah adalah merasa ridha (lebih dari ikhlash)  dan cukup dengan pembagian rizki yang Allah Ta’ala berikan. Bangga sekali rasanya. Dalam islam semuanya sudah diatur, orang islam seharusnya pun tidak perlu mencari referensi dari sumber lain. (*ini nyindir diri sendiri).  Orang islam yang telah qona’ah menunjukkan akan kesempurnaan imannya (*sambil instropeksi diri)


Jadi, setuju kah Anda dengan tulisan ini? Kalau iya, kenapa? Kalau tidak, apa alasannya?
Yuk beri komentar. Saya sangat menghargai komentar Anda.


Semoga bermanfaat. Terima kasih ^^

Referensi :
https://muslim.or.id/6090-keutamaan-sifat-qonaah.htm
Sasaki, Fumio. 2018. Goodbye Things Hidup Minimalis Ala Orang Jepang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

You Might Also Like

0 komentar

Mari berteman ^^