Hidup Minim Sampah, Bisakah Mencegah Banjir?

Juli 04, 2020


Malam tahun baru hujan. Adem ya. Adem karena nggak ada suara petasan dan adem hawanya. Jadi pengen rebahan terus. Nanti deh aku rebahan setelah nonton TV.
 
Keesokan harinya, di awal tahun 2020, aku menonton berita. Terkejut sekaligus tercengang bahwa Hotel Al-Hakim Pondok Gede hampir tenggelam. Tidak biasanya tempat itu terkena banjir. Hotel favorit di mana aku biasa renang di sana. Mobil sejenis Avanza pun ikut terendam banjir. Aku merinding. Awal tahun yang menakjubkan.
++++++

 

Awal tahun 2020, warga Jabodetabek mendapat  ‘hadiah’ yaitu banjir. Innalilahi wa innailaihi Raji’un. Astaghfirullah. Mungkinkah kita banyak dosa yang berarti sebagai azab, atau sebagai ujian? Allahu ‘alam. Hampir setiap tahun Jakarta tak pernah absen dari bencana banjir. Meskipun telah berganti Gubernur, banjir tak bosan nya mendatangi. Dan sekarang bencana banjir meluas ke beberapa  kota disekitarnya yaitu Tangerang, Depok, Bekasi, dan Bogor. Daerah yang biasanya tak tersentuh banjir pun, terkena dampaknya. Seperti Bandara Halim Perdanakusuma,  Tol Cikampek, jalur Transjakarta juga tak ketinggalan. Lalu apa saja penyebab dari banjir ini?


Beberapa penyebab banjir

Penyebab banjir yaitu hujan yang turun terus menerus (cuaca ekstrem), normalisasi kali Ciliwung yang belum selesai, kurangnya lahan hijau untuk resapan air, penurunan tanah, dan sampah yang dibuang tidak pada tempatnya. Hari ini masih buang sampah sembarangan. Masih zaman? Haduh. *Tepok jidat.
Manakah yang paling dominan di antara 5 hal tersebut? Disebutkan bahwa cuaca ekstrim penyebab yang paling dominan. Ada juga yang berpendapat tidak ada faktor dominan. Mana yang benar? Entahlah.

Saya meyakini bahwa banjir yang melanda awal tahun ini, adalah ketentuan dari Nya. Sesuai dengan firman Allah di surat Asy-Syuura ayat 30:

“Dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian. Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)”.

Jika mendapat musibah, maka ucapkanlah Innalilahi wa innailaihi Raji’un, (kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). Bisa juga mengucapkan Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya).

Jangan saling menyalahkan. Pun tidak ada manfaatnya. Tidak kunjung menyelesaikan masalah. Akan tetapi, instrospeksi diri. Berbenah dari diri sendiri. Perubahan bisa kita mulai dari diri sendiri. Peran yang paling mudah dan sederhana adalah menangani sampah.


Momentum tepat untuk sadar lingkungan

Hujan ekstrim hingga menimbulkan banjir merupakan salah satu dampak perubahan iklim. Inilah saat yang tepat untuk adaptasi gaya hidup minim sampah atau zero waste. Beberapa langkah mudah untuk mencegah datangnya banjir yaitu:
1. Buat resapan air atau lubang biopori. Bagaimana caranya? Berikut gambar nya
lubang biopori

2. Menanam pohon.

3. Memilah sampah organik, non organik. Buang sampah pada tempatnya saja tidak cukup. Sampah organik seperti kulit buah, sayur, daun, berbagai jenis rempah-rempahan, tulang ayam, ikan, dll. Sisa organik tersebut dapat dikubur langsung ke tanah ataupun ke lubang biopori. Sedangkan sampah non organik yaitu plastik, kertas, aluminium, karet (ban bekas). Sampah non organik dapat didaur ulang, disetorkan ke drop box Waste4Change.

4. Mengurangi sampah dengan tolak plastik sekali pakai. Untuk sisa organik adalah habiskan makananmu; tanam kembali dari sedikit bagian sayur (seperti sawi, daun bawang, seledri, dll); membuat kompos.

Jika kita semua bisa adaptasi pola hidup minim sampah, sampah yang disetorkan ke TPA pun akan sedikit. Berharap ke depannya tidak menyebabkan banjir dan masalah lingkungan lainnya. Mari melakukan aksi kebaikan. New year, new action, new me. Semoga jadi pelecut agar kita semakin sadar lingkungan. Sampahmu tanggung jawabmu.

Kita semua punya peran kan? Punya solusi lain? 

You Might Also Like

0 komentar

Mari berteman ^^