5 Tips Mengemas Barang Pengganti Plastik. Barangnya Ada Di Sekitarmu!

Juli 04, 2020

Apakah Anda pernah memberikan hadiah untuk seseorang? Apakah Anda sering belanja online? Kalau beli barang dari online shop biasanya dapat bonus nya kan? Bonus yang saya maksud adalah bungkusnya. Dengan terpaksa datang beserta barang yang telah dipesan. Beli buku dapat bubble wrap. Beli kosmetik dapat plastik dari ekspedisi. Meskipun tujuannya untuk melindungi barang sampai ke tangan konsumen. Akan tetapi, ada dampak buruk yang ditimbulkan.
Memberikan kado/hadiah, dan kegiatan jual beli online ini pun sangat memberikan andil dalam menambah sampah ke bumi. Banyak macamnya seperti kantong plastik, stiker, selotip, bubble wrap, gabus/sterofoam, dan sampah lainnya yang bersifat sekali pakai. Sulit didaur ulang. Ujung-ujungnya akan menjadi residu dan berakhir di TPA. Tidak!!!!! Saya sadur dari website Greenpeace bahwa berdasarkan penelitian Jenna R. Jambeck dari Universitas Georgia tahun 2010, ada sekitar 275 juta ton sampah plastik di seluruh dunia. Setiap satu menit, sampah plastik yang dibuang ke laut setara dengan satu truk penuh.
Maka dari itu, yuk manfaatkan kembali. Gunakan lagi barang bekas yang ada disekitar Anda. Termasuk kemasan/bungkusan yang datang dari penjual.  Saya akan berbagi pengalaman jual beli online shop dan mengirim hadiah. Berbekal dari bacaan di internet, diskusi komunitas dan seliweran inspirasi di sosmed. Semoga bisa bermanfaat ya.
  1. Manfaatkan kembali selotip, kardus, plastik. Biasanya kan kalau beli barang online dikemas dengan selotip, kardus, plastik, bubble wrap, dll. Anda bisa menggunakannya lagi untuk membungkus sesuatu. Jika Anda sebagai penjual bisa memanfaatkannya untuk mengirim barang.  Jadi lebih hemat kan? Akan tetapi, Anda juga harus memikirkan keselamatan barangnya. Apakah aman? apakah barang akan selamat sampai di konsumen? Mungkin Anda perlu melakukan beberapa percobaan dan diskusi dengan orang yang lebih berpengalaman. Kalau saya pribadi, hanya mengirimkan buku. Berbekal plastik, kalender/katalog/majalah bekas. Alhamdulillah selamat sampai di tangan konsumen. Kuncinya adalah sabar, dan pantang menyerah.
2. Pengganti selain bubble wrap bisa menggunakan sabut kelapa, kardus telur, potongan kertas, kertas koran. Bahan-bahan tersebut lebih ramah lingkungan atau go green.

sumber: doc pribadi

3. Jangan lupa selipkan pesan hijau pada barang yang akan dikirimkan. Contohnya “gunakan kembali kemasan ini”. Tak ketinggalan cantumkan sosial media Anda sebagai penjual. Karena biasanya di market place tidak diperbolehkan mencantumkan sosial media ataupun nomor telepon.

sumber: instagram/dkwardhani

4. Selain menggunakan selotip bekas, Anda juga bisa menggunakan selotip air atau lakban air. Sehingga bisa langsung dikompos jika sudah tak terpakai. Namun, kekurangannya adalah tidak bisa menempel di media aluminium dan kantong plastik. Menempel kuat di media kertas, kardus, karton, tembok, kaca, dan botol plastik. Jangan gunakan lakban kertas, meskipun namanya ‘kertas’ ternyata tidak bisa dikomposkan.
sumber: instagram/senja.zw

5. Jika Anda ingin membungkus barang untuk seseorang yang spesial. *Ciee. Anda bisa menggunakan metode furoshiki. Yaitu melipat barang menggunakan kain ala Jepang. Bisa menggunakan baju bekas/jilbab yang tidak terpakai. Bagaimana caranya melipat dengan metode furoshiki?  Anda bisa menonton video di bawah ini


TIPS TAMBAHAN

Saya menyimpan bungkus dari ekspedisi ataupun dari penjual. Kemudian saya gunakan kembali. Seperti kardus, selotip, plastik. Dengan sabar dan hati-hati, saya lepas pelan-pelan. Meskipun ada rasa tidak sabar ingin memeluk barang idaman. Selanjutnya, selotip ditempelkan di botol plastik bekas. Sehingga kalau mau mengemas barang bisa dengan mudah menggunakannya. Sayang kan kalau dibuang? Padahal masih bisa dimanfaatkan.
sumber: doc pribadi
Di zaman kecanggihan internet ini, masyarakat pun jadi termudahkan untuk berbelanja. Mohon bijak lah dalam berbelanja. Karena tidak hanya uang yang dikeluarkan. Tapi juga jejak karbon, dan energi. Serta yang paling tidak diharapkan adalah menghasilkan sampah baru. Ckck. Beli barang sekaligus menghasilkan sampah baru. It’s horrible? Right?

Referensi :
– DK. Wardhani, Bye-Bye Sekali Pakai. 2020
https://www.greenpeace.org/indonesia/siaran-pers/4358/tekan-konsumerisme-untuk-kendalikan-bencana-iklim/

You Might Also Like

0 komentar

Mari berteman ^^